It is about life changing experience. Enjoy the blog, write your comment and hope that we all learn something about LIFE :)
Thursday, 19 May 2011
#blissipline week 4 Honesty
Friday, 15 April 2011
Tough Question from 3,5yro
Semalam, Darren (3,5th) menanyakan sebuah hal kritis kepada saya.
Lebih kurang percakapannya seperti dibawah ini :
D : Ma, shalawat itu apa sih ?
Me: Shalawat itu salah satu cara umat muslim beribadah
D : Kalau Darren jadi muslim boleh tidak ?
Me : kamu bisa pilih kamu mau agama apa kalau sudah dewasa nanti
D : kalau sekarang ?
Me : kalau sekarang, nanti yg ajarin agamanya siapa ? Kan papa mama Kristiani . Kalau masih anak- anak harus ikut papa mamanya.
***end of conversation
Buat saya, percakapan diatas merupakan pertanyaan tersulit yang pernah ditanyakan Darren.
Darren sudah mulai bertanya tentang seks kepada saya, dan saya dengan mudah menjelaskan kenapa pria punya penis dan wanita punya vagina; kenapa wanita punya payudara yg besar sedangkan pria tidak dll.
Tapi isu mengenai pandangan hidup , agama atau apapun sebutannya sangatlah sensitif.
Manusia diberi kebebasan untuk memeluk agama dan meyakini kebenaran ajaran agama tersebut.
Begitu juga saya, memilih untuk mengajarkan Darren bahwa dia memiliki kebebasan untuk memilih agama yg diyakininya saat dia dewasa nanti.
Agama hanyalah agama , yang dibentuk oleh sekelompok orang , diatur oleh sebuah wadah organisasi.
Yang paling penting adalah aplikasi ajaran tentang kasih dalam kehidupan sehari- hari.
Saat saya menuliskan perihal ini di sosial media, ada banyak komentar yang muncul termasuk komentar yang bunyinya seperti ini “Tp jk itu anak kt mustinya kt memberikan ketegasan ttg apa yg orgtuanya pegang!!
Darren tidak pernah minta dilahirkan dari rahim saya sebagai seorang keturunan Tionghoa yang tinggal di Indonesia yang kebetulan orangtuanya memeluk agama Kristen.
Yang bisa saya lakukan adalah memberikan teladan dan contoh mengenai pandangan hidup seorang pengikut Kristus.
Memori saya melayang ke masa kecil saya.
Saya lahir di keluarga keturunan Tionghoa yg memeluk Dinamisme, Animisme.
Orangtua saya membebaskan anak- anaknya untuk memilih agama apapun dan hasinya, kami bisa tumbuh dengan toleransi yang baik kepada orang lain yang berbeda dari kami.
Coba deh baca bukunya Mitch Albom yang judulnya “Have a little faith”
Buku tersebut merupakan kisah nyata dari seorang Rabi dan seorang Pendeta.
Di buku tersebut, saya hormat dan kagum kepada seorang Rabi Yahudi yang menolong gereja Katolik dan Rabi itu berkata,” Tuhan itu suka akan perbedaan jadi mengapa kita harus meributkan hal itu ?”
Saya mau numpang tanya sebentar, tahu Mother Teresa yang sudah meninggal ?
Kira- kira beliau masuk surga atau neraka ?
Beliau seorang Katolik, menyembah patung Bunda Maria.
Tapi dampak dari aplikasi kasih dalam hidup beliau sehari- hari amatlah nyata.
Menurut ajaran agama Kristen, kalau menyembah patung berarti menyembah berhala dan itu dosa, bisa masuk neraka.
Banyak juga orang yang mengaku Kristen tapi kelakuannya tidak mencerminkan kasih sama sekali.
Contoh nyata adalah kejadian pada salah seorang sahabat saya menjelang hari pernikahannya, pihak gereja tempat kami menumpang membatalkan secara sepihak penggunaan gedung gereja padahal undangan sudah dicetak dan diedarkan!
Jadi, pilihan ada di tangan kita sendiri untuk meyakini sesuatu apapun itu dengan amat sadar.
Blindfull faith just gonna failed you J
Sunday, 10 April 2011
testing from android platform
Aaah, what a convenience for me :)
Monday, 4 April 2011
Mau atau Tidak

Sedari kecil, saya selalu menginginkan menjadi seorang dokter. Bagi saya seorang dokter itu adalah pribadi yang cerdas, sehat, suka menolong dan bersih.
Masa- masa sekolah saya lalui dengan belajar secara akademis dan menjadi yang terbaik di setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Keinginan menggebu untuk menjadi dokter saat itu, namun harapan saya pupus tatkala tidak lolos UMPTN dan terbentur biaya untuk melanjutkan kuliah kedokteran di universitas swasta .
Ketidakberhasilan diatas sempat membuat saya diam di tempat. Saya tidak punya rencana cadangan akan ke universitas mana, mengambil jurusan apa bila saya gagal UMPTN.
Ada beberapa pilihan yang bisa saya jalani misalnya kuliah jurusan ilmu sosial dan politik atau public relation sesuai minat saya. Namun karena kurangnya informasi, maka kebanyakan universitas yang ada sudah menutup pendaftaran.
Sampai yang tersisa hanyalah sebuah universitas di bilangan Jakarta Barat yang masih membuka pendaftaran.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, saya mendaftar ke universitas tersebut. Banyak keputusan yang saya ambil secara terburu- buru. Saat itu saya tidak memikirkan tentang jarak antara rumah dengan kampus karena saya pikir sepanjang masih mampu dijangkau dengan menggunakan transportasi publik maka seharusnya itu tidak menjadi halangan untuk saya memulai kehidupan kampus saya.
Namun ada satu keputusan yang saya buat dengan amat sadar yaitu keputusan untuk mengambil Fakultas Manajemen ketimbang Fakultas Akutansi.
Banyak orang yang menyayangkan mengapa saya mengambil Fakultas Manajemen yang kebanyakan mahasiswa Fakultas Manajemen saat selesai kuliah nanti dan bekerja berakhir dengan menjadi tenaga penjualan.
Saya hanya tersenyum dan berkata pada diri saya sendiri bahwa saya akan membuktikan bahwa tidak semua mahasiswa yang mengambil Fakultas Akutansi bisa membuat jurnal dan laporan keuangan dengan benar serta tidak semua mahasiswa Fakultas Manajemen tidak mengerti Akutansi.
Dan inilah saya sekarang, dahulu seorang mahasiswa Fakultas Manajemen jurusan Manajemen Keuangan yang kerjanya sekarang lebih banyak berhubungan dengan Akuntansi.
Dan inilah saya sekarang , yang telah mematahkan anggapan keliru bahwa mahasiswa yang kuliah di Fakultas Manajemen hanya akan menjadi tenaga penjualan.
Saya hanya seorang yang percaya bahwa kalau kita mau belajar, tidak ada apapun yang terlalu sulit.
Saya yang percaya bahwa semua orang dikaruniai akal oleh Yang Maha Sempurna hanya persoalannya, mau belajar dan berusaha lebih keras dari kebanyaka orang atau hanya pasif menerima keadaan.
*gambar diambil dari gettyimages yang mewakili cita- cita masa kecil saya dengan pekerjaan saya sekarang :)
Tuesday, 29 March 2011
Mewarnai dengan produk Maped
Kita bisa menemui crayon yang ada di pasaran beraneka ragam jenis dan merek namun semua crayon itu meninggalkan bekas di tangan anak. Hal inilah yang saya tidak suka, saya khawatir sisa material crayon tersebut tidak sengaja masuk ke dalam pencernaan anak melalui tangannya.
Kemudian saya menemukan ini!

Awalnya saya tahu crayon bermerek Maped ini dari sepupu saya. Saat saya main ke rumahnya, keponakan saya sedang asyik mewarnai menggunakan crayon Maped ini.
Saya amati si Maped ini dan ternyata saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Saya mulai mencari crayon ini di toko buku namun sulit sekali menemukannya.
Akhirnya pucuk dicinta ulam tiba, saya menemukan crayon ini di Carrefour dan sedang diskon saat itu! Langsung saja saya bawa pulang crayon ini tapi tanpa lupa membayarnya di kasir terlebih dahulu :D
Monday, 28 March 2011
Financial Talk di @atamerica
Tuesday, 22 March 2011
#blissipline week 2 How I redeem myself ?

Bicara tentang membuat kesalahan, wajar kalau sesekali kita sebagai manusia melakukan kesalahan. Tapi ada kalanya hati ini begitu marah karena tiba- tiba kita dituduh atau dirasa bersalah atas apa yang tidak kita perbuat.
Hal tersebut pernah saya alami sewaktu saya (yang fresh graduate waktu itu) baru terjun ke dunia kerja yang sebenarnya.
Berbagai intrik dan politik kantor benar adanya walaupun saya tidak mau ambil pusing dengan situasi yang ada. Hingga pada suatu ketika, saya dituduh atau lebih tepatnya difitnah oleh senior melakukan pemborosan via telepon dan hal ini sampai ke hadapan owner. Saya langsung dipanggil untuk dimintai keterangan mengenai hal tersebut, dan karena pekerjaan saya memang mengharuskan saya berhubungan dengan sambungan telepon internasional maka saya jelaskan dengan kepala dan hati yang dingin. Akhirnya, sang owner mengerti duduk perkara tersebut dan lebih berhati- hati lagi terhadap “apa kata senior” itu. Dan blessing in disguise-nya dari kejadian diatas, saya malah mendapatkan promosi dan kenaikan gaji.
Tidak berapa lama selang kejadian itu, saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan saya bukan karena masih dendam dengan senior itu namun lebih kepada mencari kebahagiaan bagi diri saya sendiri karena saya layak untuk bahagia.
Nampaknya senior itu selalu mencari- cari kesalahan yang tidak saya buat melalui internal audit yang sejak awal tahun 2004 sampai detik ini saya membuat tulisan ini , hasil internal audit itu tidak pernah keluar. Lucu bukan ?!
Nah kalau tahun itu, saya mampu untuk tidak melakukan klarifikasi lain halnya dengan tahun 2010.
Mungkin karena berbekal pada kejadian diatas, saya berprinsip bahwa “I must stand for myself, otherwise, no one will”
Ada kesalahan di departemen lain yang hubungan erat dengan departemen saya. Alhasil, saya patut menanyakan kronologis kejadian dengan yang bersangkutan sebut saja R. Rupanya R tidak terima dan mulai mengada- ada bahwa saya menggelar meeting tersebut semata- mata karena urusan personal.
Semua yang hadir di meeting tersebut dengan jelas tahu bahwa saya tidak memihak dan tidak juga menyalahkan pihak manapun. Saya menghimbau agar masing- masing yang hadir dapat lebih teliti lagi dalam bekerja. Berbuat kesalahan manusiawi tapi kalau kesalahan itu terjadi karena lalai atau malas untuk menelusuri lebih jauh, tampaknya itu tidak manusiawi.
Keesokkan harinya, salah satu staff saya melakukan kesalahan yang berakibat lebihnya jumlah pembayaran kepada supplier daripada yang seharusnya.
Alih- alih saya marah kepada staff saya, saya menginterospeksi diri. Seharusnya kejadian kesalahan jumlah pembayaran tersebut dapat dicegah bila saja saya lebih teliti untuk melihat pengajuan pembayaran tersebut. Dan tertulis lah status saya di ym berikut bunyinya,” Kalau bawahan salah berarti saya juga bersalah, I wanna be a leader not a boss! #notetoself yang rupanya juga dibaca oleh atasan R.
Tanpa klarifikasi lebih lanjut kepada saya, atasan R langsung curhat ke beberapa orang dengan disertai tangis bahwa tulisan tersebut dibuat untuknya. *drama*
Padahal tulisan tersebut murni untuk saya sendiri! Akhirnya untuk meluruskan hal tersebut saya mengirimkan e-mail klarifikasi kepada yang bersangkutan dan diakhiri dengan pertemuan singkat untuk meluruskan duduk persoalan yang terjadi.
Entah apa yang saya lakukan sudah benar dan seharusnya atau saya telah “Menabuh genderang perang dengan tidak strategis” namun saya cukup tahu melalui peristiwa ini agar lain kali kalau saya dihadapkan pada situasi seperti ini lagi, saya akan lebih pintar lagi menghadapinya J
*pic from getty images
Friday, 11 March 2011
(Tidak) Perlu Antibiotik
Demam tinggi melebihi 39C selama 6(enam) hari.
Biasanya, saya tidak pernah membawa Darren ke dokter apabila Darren demam sampai 5(lima) hari.
Mengapa ?
Karena demam adalah proses tubuh melawan virus dan kuman penyakit.
Biasanya kalau Darren terkena virus, dia akan mengalami demam hanya tidak berkepanjangan.
Rata- rata demam akibat virus di tubuh Darren berlangsung selama 3-4 hari.
Namun kali ini, demam melebihi toleransi waktu yang ditetapkan.
Sehingga saya hampir berniat untuk melakukan tes darah terhadap Darren.
Bersyukur karena kakak ipar yang juga adalah dokter anak memantau keadaan Darren sehingga menyimpulkan bahwa Darren terkena demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella
Ciri utama demam tifoid ini adalah demam tinggi pada sore menjelang malam hari.
Setelah googling mencari apa itu demam tifoid, cara penanganan dan jenis obat yang dapat diberikan, akhirnya dengan sangat terpaksa, Darren harus minum antibiotik selama 10 (sepuluh) hari.
Saya sangat menentang penggunaan antibiotik kepada anak- anak.
Mengapa ?
karena biasanya antibiotika bekerja sangat spesifik pada suatu proses, mutasi yang mungkin terjadi pada bakteri memungkinkan munculnya strain bakteri yang 'kebal' terhadap antibiotika. Itulah sebabnya, pemberian antibiotika biasanya diberikan dalam dosis yang menyebabkan bakteri segera mati dan dalam jangka waktu yang agak panjang agar mutasi tidak terjadi. Penggunaan antibiotika yang 'tanggung' hanya membuka peluang munculnya tipe bakteri yang 'kebal'.
Itulah sebabnya apabila penggunaan antibiotik dapat dihindari, lebih baik dihindari.
Yang menyedihkan adalah terkadang balita yang mengalami demam tinggi diberikan resep antibiotik tanpa melakukan serangkaian tes padahal belum tentu demam tinggi itu karena bakteri, bisa jadi demam karena virus.
Ini potret nyata bahwa masih banyak masyarakat yang mempercayakan kesehatan di tangan dokter padahal seharusnya sebagai pasien kita harus mengkritisi setiap vonis yang dokter jatuhkan terhadap kita.
Kita sebagai pasien juga harus mencoba mencari opini lain untuk penyakit kita.
dan kita sebagai pasien berani mengatakan TIDAK untuk resep obat yang seharusnya tidak kita perlukan atau antibiotik yang diberikan tanpa adanya serangkaian tes!
Berikut tips untuk orangtua yang anaknya sedang sakit demam:
- kompres lipatan tubuh (ketiak, paha) dan basuh tubuh anak dengan air hangat, malah ada sebagian yang merendam anaknya di air hangat (keputusan untuk merendam ada di tangan Anda)
- minumkan parasetamol atau ibuprofen untuk menurunkan panas
- apabila panas berlanjut melebihi 4(empat) hari, segera ke dokter dan lakukan serangkaian tes
- orangtua harus tetap tenang agar dapat berpikir jernih dan harus mengusahakan menjaga kesehatan saat tubuh kekurangan tidur dengan cara memenuhi asupan air sebanyak 35 x berat badan
- doa, this is the most powerful medicine :)
Wednesday, 9 March 2011
what a 3yo son can do...
these couple days, Darren doesn't went to school because he got typhoid fever.
High fever 39C every night makes the whole family gone insane.
Lack of sleep makes us all crancky but thank God that we still have our common sense.
Kinda heart breaking when Darren doesn't complaint at all about his fever.
Instead, he told me to go to work and leave him with his daddy.
After one week dealing with fever, last night Darren able to sleep tight and so do the rest of family.
Today, he seems to be okay and had no fever at all.
I urge him to go to school.
Usually he go to school at 10.30am but on 11.00am his daddy call me and tell me that Darren refused to go to school.
By the phone, I told him that if he doesn't want to go to school, he can't go with me to try yoga lesson on Saturday morning.
here's the conversation (in Indonesia):
Daddy : Neii, Darren refused to go to school
Me : Let me talk to him
Darren: Mommy, I don't want to go to school
Me : Look, I have planned to go to yoga lesson with theurbanmama on Saturday morning , if you don't go to school you stay at home on Saturday okay ?!
Darren: mommy, I go to school then... Daddy, why you call mommy ?
Hahahaha, I laughed... he's so cute... the way he protest why his daddy called me to tell him to go to school :D
Friday, 4 March 2011
#NoComplaintWek Day 6- 7
Glad that day 6-7 was weekend, means #NoComplaintWeek not to challenging for this two days in row.
All day with my 3(three) years old son was great and fun.
From he opened his eyes until he go to bed at night, I was there with him.
I enjoyed this weekend and I think I succeed #NoComplaintWeek challenge.
