Thursday, 5 July 2018

The Social Media Generation

Picture from pixabay

Berawal dari chat WA group yang membahas pemblokiran sementara aplikasi Tik Tok oleh Menkominfo, Rudiantara sampai kepada seorang anak remaja berusia 13 tahun dengan akun bernama Bowo Alpenliebe.

Remaja yang bernama asli Prabowo Mondardo ini terkenal karena video yang diunggahnya di aplikasi tik tok dan memiliki banyak penggemar khususnya remaja putri. Dan yang mengerikan, banyak remaja putri yang rela menjual ginjal hanya untuk bertemu dengannya. Tidak berhenti di situ, yang ekstrim lagi, ada yang mau membuat agama baru dengan Bowo sebagai tuhannya.

Kehebohan terjadi saat netizen menghujat Bowo yang membuat acara Meet and Greet berbayar seharga Rp80.000. Kalau aku sih melihat Rp80.000 harga yang wajar untuk nonton bareng di salah satu bioskop di Jakarta Timur. Tapi, memangnya Bowo itu siapa sampai kalau mau bertemu dengannya saja kita harus mengeluarkan uang?

Menurutku, masyarakat sebaiknya tidak sepenuhnya menghujat Bowo. Kalau memang dirasa tidak masuk akal, ya cukup tinggalkan saja, tahan jempol dan tidak perlu meninggalkan jejak digital di akun media sosial yang bersangkutan.

Kata salah satu artikel di lifehack.org "We are always hungry for approval, thirsty for recognition, and needy for validation. The real question is — can we satisfy these core needs just by getting numerous ‘likes?"

Mungkin mereka yang menghujat juga butuh pengakuan? kurang piknik? atau malah tidak mencintai dirinya sendiri?

Media sosial hanya alat, kita sebagai pengguna seharusnya menjadi tuan. Namun seringkali kenyataan menjadi sebaliknya, kebanyakan kita yang diperbudak oleh media sosial. Betapa dengan mudahnya kita mengumpat, mengejek, dan menyakiti orang lain melalui tulisan di media sosial baik milik pribadi maupun menumpang di lapak orang lain.

Hal yang menjadi tantangan hari hari belakangan adalah munculnya generasi media sosial yang lebih muda dibandingkan saat aku pertama kali bermain media sosial. Aku bermain friendster pertama kali saat berumur 21 tahun. Kini, anak-anak memiliki akun media sosial saat mereka masih memakai popok padahal batasan untuk membuat sebuah akun media sosial adalah 13+ tahun menurut aturan Federal di AS (sayangnya, Indonesia belum memiliki batasan seperti ini).

Dengan banyaknya anak-anak yang bermain media sosial, The Royal Society of Public Health’s di Inggris memberikan peringatan mengenai kesehatan remaja yang berkaitan dengan penggunaan media sosial. Generasi Media Sosial cenderung memiliki tingkat kecemasan serta depresi di atas rata-rata dan mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari.

Memiliki anak berumur 10 tahun menjelang 11 tahun membuatku semakin berhati-hati memperkenalkan dunia digital kepadanya. Kita tidak bisa mensterilkan anak dari dunia digital karena perkembangan teknologi digital sejatinya membantu di dalam kehidupan sehari-hari.

Kemarin, aku menonton sebuah video yang diunggah di Facebook saat perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Video dokumenter yang berkisah tentang penanganan anak-anak yang kecanduan bermain online games di sebuah boot camp. Di China, banyak kasus dilaporkan mengenai remaja bahkan dewasa yang meninggal akibat kecanduan online games. Ya, online games  memang dijuluki electronic heroine yang dapat membuat penggunanya lupa daratan, lautan dan udara.

Lalu, apa pesan video tersebut untuk orangtua sepertiku? Pesannya hanya banyak luangkan waktu bersama anak.

Sebenarnya, baik Bowo atau pun penggemarnya hanyalah remaja yang kesepian. Kedua orangtua Bowo bekerja sehingga pengawasan orangtua saat menggunakan media sosial menjadi minim. Bisa jadi, hal tersebut juga terjadi kepada para penggemar Bowo yang antik-antik itu tadi.

Seperti yang Ibu Rani Razak katakan, "Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menjadi manusia dewasa, masa yang dipenuhi dengan perubahan hormon yang dikenal dengan istilah pubertas dan stres."

related articleWow! Anakku Sebentar Lagi ABG!

Nah, orangtua-orangtua remaja generasi media sosial itu nyadar enggak sih kalau anaknya cuma perlu ditemani untuk melewati fase ini?  Fase yang bagi mereka merupakan sebuah loncatan besar di dalam kehidupannya.

Bisa jadi juga orangtua masih menggunakan cara pengasuhan yang didapat dari generasi sebelumnya, "yang penting anaknya duduk anteng, enggak loncat dan lelarian kesana kemari". Hei! bukankah anak aktif itu pertanda anak sehat?

Padahal pola pengasuhan generasi media sosial seharusnya berbeda dari cara generasi terdahulu. Diperlukan banyak pihak yang saling mendukung dalam mengasuh seorang anak. Penerapan aturan di dalam menggunakan gawai yang jelas dan tegas serta pengajaran nilai di dalam keluarga.

Kalau aku, jelas bahwa penggunaan media elektronik (nonton televisi plus bermain gawai) untuk anak dibatasi hanya 2 jam per hari.

Aku akan menjatah si sulung menggunakan media sosial hanya 10 menit setiap kali dia sudah melakukan tugas dan kewajibannya terutama urusan sekolah. Misalnya, 10 menit pertama saat perjalanan pulang dari sekolah ke rumah kalau dijemput oleh kami, orangtuanya.

10 menit berikutnya apabila dia sudah tidur siang dan mandi maka baru aku berikan lagi. Selanjutnya, kalau sudah selesai belajar, makan malam, ngobrol denganku dan beberes buku yang akan dibawa ke sekolah baru aku berikan. Sehingga total penggunaan media sosial si sulung bisa terkendali dan bahkan kurang dari 2 jam sehari.

Selain membatasi waktu penggunaan media sosial, aku juga menemani si sulung saat dia membuka media sosialnya atau browsing internet maupun menonton youtube. Untuk youtube aku memberlakukan restricted mode agar tidak muncul video-video yang tidak layak tonton bagi anak.

related article:  Keluarga Indonesia

Yang terakhir, aku membuat kegiatan yang bisa dilakukan bersama seperti berkunjung ke museum, jalan-jalan sampai mendongeng. Si sulung sudah mulai bisa menyusun cerita untuk didongengkan dan menurutku itu juga bisa melatih keterampilannya berbahasa dan berpikir sistematis.

related article: #theJosepsSGtrip

Nah, ternyata banyak kan yang bisa dilakukan oleh orangtua dengan cinta untuk mendidik generasi media sosial?

Yuk cintai anak dengan menyediakan waktu, hati dan telinga untuk mereka! Dan stop jarimu dari gawai untuk menambahkan komentar, taruh dan peluk anak-anakmu sekarang!

Saturday, 30 June 2018

Tin Tin si Bus yang Berbicara

Masih ingat kan kalau aku dan Xiao Dre sedang menanti-nantikan paket trial satu bulan dari Kodomo  Challenge?

Akhirnya paket perdana Kodomo Challenge tiba! Hore!

Oh ya,  apakah kalian sudah tahu apa itu Kodomo Challenge? Kodomo Challenge merupakan paket edukasi balita yang berdiri pada tahun 1988 di Jepang. Dalam perjalanannya selama 30 tahun,  Kodomo Challenge juga dikenal di Taiwan (1989), Tiongkok (2006) serta Korea Selatan (2006). Kini Kodomo Challenge hadir di Indonesia!

baca juga: Seru Bermain bersama Shimajiro

Paket tiba dengan menggunakan kotak kardus yang tebal.


Didalamnya produk Kodomo Challenge dibungkus dengan Bible wrap dan plastik sehingga menjaga produk dalam keadaan baik saat tiba di tangan konsumen. 

Paket Kodomo Challenge seri Toddler (kontrak 1 bulan) terdiri atas bus yang dapat berbicara bernama Tin Tin dan dilengkapi dengan baterai. Ada juga buku serta DVD edisi pertama, striker binatang,  parent's guide dan lembaran keterangan program langganan Kodomo Challenge. 

Tujuan hadirnya Kodomo Challenge di Indonesia adalah untuk membangun kebiasaan hidup yang menyenangkan bagi orangtua dan anak.

Kebiasaan hidup merupakan fondasi penting untuk belajar. Dengan kebiasaan hidup yang baik akan timbul emosi yang stabil serta tumbuhnya rasa percaya diri anak. Dengan kedua hal tersebut anak dapat beradaptasi dan menghadapi situasi baru di masa depannya. 

Program pendidikan Kodomo Challenge mencakup sikap, motivasi hingga kepercayaan diri.  Program ini sudah disesuaikan dengan pertumbuhan diri anak dan dibuat dengan mengedepankan keselamatan anak. Produk mainan terbuat dari bahan berkualitas dan kokoh.

Kurikulum dibuat komprehensif,  sesuai usia dan mudah dimengerti oleh orangtua dan anak. Kurikulum meliputi Gaya Hidup, Ilmu Pengetahuan,  Sosialisasi,  Matematika Dasar,  Body Strength,  Seni,  Musik. Metode belajar program ini menggunakan metode multi sensorik.

Dan kami pun mencoba bermain bersama.

Xiao Dre kelihatan senang sekali bermain paket pertama seri Toddler. Aku pun bahagia karena ada banyak bahan kegiatan untuk dilakukan bersama dengan Xiao Dre melalui Kodomo Challenge.

Rangsangan multi sensorik pun terjadi saat kami bermain bersama. Produk yang berwarna cerah,  buku bergambar dan DVD merangsang sensorik penglihatan. Tin Tin si Bus yang dapat berbicara merangsang sensorik pendengaran. Xiao Dre melatih motorik halusnya dengan menempel striker binatang di buku bergambar.

Terima kasih Benesse Corporation yang sudah menciptakan Kodomo Challenge untuk anak-anak Indonesia!


Friday, 29 June 2018

Seru Bermain Kodomo Challenge bersama Shimajiro

Aku masih ingat pertama kali melihat bayi mungil yang masih berselimutkan selaput putih menangis dengan keras dan dibaringkan di atas dada untuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Rasanya saat itu adalah momen paling membahagiakan seumur hidupku. Bayi kecil yang dinanti-nantikan selama hampir 10 bulan berada di dalam perut yang aman dan nyaman akhirnya melihat dunia di luar ketubannya. Seiring semakin bertumbuhnya bayi mungilku, aku jadi serba kuatir tentang masa depannya. Tentunya, setiap orangtua menginginkan segala hal baik untuk anaknya termasuk belajar mencari tahu dan mengerti tentang dunia anak.

Dunia anak adalah dunia bermain karena bermain merupakan sifat naluriah anak. Bermain adalah hak anak sesuai dengan konvensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai hak anak yang juga sudah diratifikasi pada tahun 1990 oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan bermain membantu anak belajar tentang dirinya sendiri dan juga lingkungannya apalagi kala anak berada dalam masa golden age period (0-6 tahun). Pada usia emas ini pertumbuhan dan perkembangan fisik serta otak anak berada pada masa terbaik. Segala informasi yang diserap akan mempengaruhi kepribadian, sikap dan karakter anak.

Melihat dampak bermain yang positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, memilih mainan pun menjadi hal yang gampang-gampang susah. Ada begitu banyak pilihan mainan anak yang dapat kita beli bebas di luar sana tapi apakah kita sudah optimal memainkannya bersama anak?

Beberapa bulan lalu, aku melihat sebuah iklan di media sosial yang dinamakan "Kodomo Challenge". Pertama kali melihat, kupikir ini adalah program dari merek pasta gigi untuk anak sehingga aku tidak menghiraukannya untuk beberapa lama. Namun ada beberapa temanku yang posting di media sosialnya tentang Free Trial Kit  dan aku tertarik untuk mencobanya. Bagi kalian yang juga ingin mencoba, bisa langsung klik di sini!  Bahkan, saat kami berangkat liburan Maret 2018 lalu, Dre kelihatan asyik bermain dengan buku bergambar!
Asyik membaca buku bergambar sambil menunggu waktu boarding

Sampai akhirnya, Xiao Dre mencoba Kodomo Challenge Touch & Try pada 24 Maret 2018 di kantorkuu co working space, Jakarta Selatan.
Berfoto bersama si harimau kecil pemberani, Shimajiro
Akhirnya setelah membawa Xiao Dre mencoba Kodomo Challenge Touch & Try, aku jadi tahu apa itu Kodomo Challenge sepenuhnya!

Kodomo Challenge  merupakan program edukasi dari Benesse Corporation, sebuah perusahaan edukasi nomor satu di Jepang. Kata Benesse sendiri artinya well being, yang selalu berusaha membantu setiap konsumen agar dapat meningkatkan motivasi untuk belajar dan memecahkan setiap masalah dalam hidup mereka.

Program edukasi Kodomo Challenge  diciptakan untuk mendampingi orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan anak usia dini. Selain itu, program edukasi ini dirancang agar anak dan orang tua dapat belajar sambil bermain bersama serta membantu anak belajar dan berkembang dengan beragam kegiatan setiap bulannya.

Tentunya untuk mendapatkan paket mainan edukasi ini, orangtua perlu berlangganan melalui sistem kontrak 6 bulan (Rp2.178.000) atau 12 bulan (Rp3.168.000) yang dapat dicicil menggunakan kartu kredit berlogo Visa atau Master. Saat ini program edukasi tersedia dalam dua pilihan, Toddler (untuk anak usia 1-2 tahun) dan Playgroup (untuk anak usia 2-3 tahun).
Salah satu mainan dari serial Kodomo Challenge
Metode pembelajaran program edukasi ini memiliki 3 keunggulan:
  1. Menggunakan pendekatan multiplatform. Paket Kodomo Challenge datang dengan buku bergambar, mainan, video dan boneka tangan binatang harimau yang bernama Shimajiro serta buku panduan untuk orangtua.
  2. Kurikulum dan materi sesuai dengan perkembangan anak. Paket edukasi ini dilengkapi dengan kurikulum dan materi ajar yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak, baik fisik maupun logika, sehingga anak bisa menikmati dan mengerti paket edukasi dengan lebih baik.
  3. Menghadirkan sosok learning buddy. Karakter utama dari paket edukasi ini adalah seorang anak harimau lelaki pemberani yang bernama Shimajiro. Dia digambarkan penasaran tentang segala hal, berani mencoba hal baru dan senang bermain bola tendang. Tidak hanya hadir dalam bentuk boneka tangan, kartun Shimajiro sudah tayang di MNC Kids Channel Indovision dalam bahasa Indonesia.
Setelah mencoba mainan edukasi Kodomo Challenge aku merasakan manfaatnya terhadap Dre. Awalnya,dia mengeksplorasi mainan yang disodorkan dan mulai memilih mainan yang menarik baginya. Pada proses ini, Dre belajar untuk membuat keputusan bagi dirinya sendiri secara sadar.
Mengeksplorasi buku bergambar Kodomo Challenge
Ada juga permainan konstruktif yang disampaikan melalui mainan berbentuk balok, segitiga dan lingkaran. Jenis mainan ini membantu anak untuk membuat perencanaan. Video mengajarkan anak untuk meniru dan bermain secara energetik yang membuatnya belajar perbedaan peran dalam hidup.
Xiao Dre asik bermain dengan Free Trial Kit
Nah, sehabis merasakan dampak positif Dre setelah bermain  Kodomo Challenge bersama akhirnya aku mencoba kontrak satu bulan seharga Rp396.000. Duh, aku dan Dre sudah tidak sabar untuk memegang paket mainan edukasi di bulan Juli 2018 nanti!


Informasi lebih lanjut:
Website: https://www.shimajiro.id/
Instagram: @shimajiroclubid
Fan Page: Shimajiro Club Indonesia

Rindu Bapak di Film Koki Koki Cilik

"Kamu, kalau sudah besar mau jadi apa?" atau "Apa sih cita-citamu?" Aku yakin banget kita semua pasti juga pernah mengalami masa-masa ditanya tentang cita-cita. Dan biasanya kita punya jawaban favorit yang bisa jadi berubah-ubah sejalan perkembangan waktu. Kalau aku, pernah menyebut profesi yang terasa keren seperti dokter, guru hingga marine biologist. 

Kini beragam profesi yang dulunya bukan merupakan pilihan favorit bermunculan dan salah satunya menjadi koki atau professional chef. Profesi chef  semakin dilirik juga didukung oleh banyaknya ajang kompetisi dari lokal maupun internasional.


Sama halnya seperti Bima (diperankan oleh Farraz Fatik), berkeinginan untuk mengikuti Cooking Camp di mana dia bisa belajar memasak dan membuka restoran. Cooking Camp merupakan acara kemping memasak yang sangat mahal dan bergengsi.

Bima beserta dengan ibunya, Aini (diperankan oleh Fanny Fabriana) yang telah sepakat menabung untuk mengikuti Cooking Camp  tersebut sekian lama mencoba mendaftar. Tapi sangat disayangkan, uang tabungan mereka belum cukup untuk mengantarkan Bima masuk Cooking Camp.

Yah, kasian ya.... hampir pupus harapan Bima untuk ikut belajar di Cooking Camp! Pertolongan datang dari tetangga dan saudara yang bersama-sama menggalang dana agar Bima dapat mengikuti acara tersebut.


Bima, yang sama sekali tidak pernah belajar soal kuliner sebelumnya jelas menjadi bahan ejekan bagi Oliver (diperankan oleh Patrick Milligan) bersama dengan Ben dan Jody (diperankan oleh kembar Clay Gribble dan Cole Gribble). Bima pun dibuat tersesat oleh mereka tapi justru itulah yang membawanya kepada Rama (diperankan oleh Morgan Oey), petugas kebersihan di Cooking Camp. Bima memergoki Rama sedang memasak dan kelihatan sangat ahli sehingga Bima tertarik untuk belajar langsung darinya.

Cerita bergulir ke tokoh sentral selanjutnya, Audrey (diperankan oleh Chloe Xaviera) yang juga merupakan keponakan dari penyanyi Indonesia yang mendunia yaitu Agnez Mo. Audrey merupakan juara Cooking Camp 3 kali berturut-turut dan memiliki seorang mama yang demanding bernama Dian (diperankan oleh Aura Kasih) yang memiliki restoran terkenal bernama La Classique.

Sejujurnya, Audrey tidak mencintai dunia kuliner layaknya menari namun dia harus memenangkan kompetisi di Cooking Camp agar dapat bertemu papanya yang berpisah dari Dian dan menetap di Belanda. Lewat persahabatannya dengan Bima, Audrey merasa memiliki sahabat sungguhan.

Puncak konflik terjadi saat buku resep masakan bapak Bima dibuang oleh Oliver. Bima merasa dia tidak sanggup memenangkan kompetisi Cooking Camp tanpa buku resep tersebut. Buku resep itu satu-satunya peninggalan bapak yang tersisa untuk Bima. Dengan buku resep tersebut, Bima dapat merasakan kalau bapaknya terasa dekat. Dia rindu bapaknya.

Keributan pun terjadi, dengan marah Bima mendorong Oliver hingga terjatuh yang mengakibatkan Bima harus didiskualifikasi.

Rama pun marah besar kepada Bima akibat Bima terlalu erat dengan buku resep bapaknya padahal menurut Rama, Bima memiliki potensi besar untuk menjadi seorang chef tanpa buku bapaknya. Berkat dukungan teman-temannya seperti Niki (Clarice Cutie), Melly (Alifa Lubis), Key (Romaria Simbolon), Kevin (Marcello) dan Alva (Ali Fikry), Bima tidak jadi didiskualifikasi.

Berhasilkah Bima menjadi pemenang Cooking Camp kali ini atau justru Audrey yang tetap menjadi juara bertahan? Siapapun pemenang Cooking Camp, prinsipku sih, kalau gak bisa masak gak apa-apa... yang penting bisa makan! HAHAHAHAHA

Terima kasih untuk blogger crony dan MNC Pictures atas undangan Press Conferense dan Gala Premier film Koki Koki Cilik yang bertempat di Kasablanka XXI, Jakarta, Kamis, 28 Juni 2018. Press Conference diawali dengan penampilan dari para pemain anak yang membawakan OST Koki Koki Cilik berjudul "Oh Senangnya" dan penampilan Chloe X dengan judul lagu "Watch Me Go".


Ketika aku menanyakan kepada Darren, bagaimana kesannya terhadap film Koki Koki Cilik, dia bilang, " Seru, Menghibur dan Mengajarkan Nilai Pertemanan."

'Jadi, Darren, kalau sudah besar mau jadi apa?," tanyaku. Dijawabnyalah, "Aku mau jadi paleontologist" *hyuuuk mareee tinggal mamanya pusing nyari universitas yang cocok!*

Yuk ajak keluargamu menonton film Koki Koki Cilik yang akan tayang mulai Kamis, 5 Juli 2018 di bioskop kesayanganmu!

Film Koki Koki Cilik:

Produksi
MNC PICTURES

Sutradara
IFA ISFANSYAH

Skenario
VERA VARIDIA

Producer
TOHA ESSA

Creative Producer
LUKMAN SARDI

Line Producer
YANUARIZA SOFWANDI PUTRI


Informasi lebih lanjut:
Facebook: MNCP Movie
Twitter: @mncp_movie
Youtube: MNCP Movie
Line: MNCP Movie