Monday, 23 July 2018

Cerdas Didik Anak Digital

Masih ingat keresahanku tentang Generasi Media Sosial?

Nah, minggu lalu, aku mendapatkan beberapa insight mengenai Cerdas Didik Anak Digital bersama Najelaa Shihab, inisiator KeluargaKita dan Shopee Indonesia.


Sebelum berbagi apa yang aku dapatkan saat Bincang Shopee kemarin, ada hal dasar yang menjadi salah kaprah seputar anak dan dunia digital seperti,
  • Anak tidak perlu belajar keterampilan di dunia digital, nanti mahir sendiri kok! Kebanyakan orangtua menganggap bahwa ketika anak sudah bisa mengoperasikan gawai maka mereka sudah mahir. Padahal orangtua perlu mengajarkan kemampuan untuk memahami batasan, misalnya: tahu apa yang yang boleh/tidak boleh dilihat/didengar serta paham sebab akibatnya. Kalau anak sudah memiliki kemampuan memahami batasan maka di manapun dan kapanpun, anak tidak akan terpengaruh hal negatif.
  • Etika di dunia maya berbeda dengan dunia nyata. Sopan santun dan etika di dunia nyata perlu dilakukan di dunia maya.
  • Semua yang kita pubikasikan di dunia maya akan hilang dengan sendirinya. Gambar, tulisan, dan video yang dipublikasikan di dunia maya akan tetap meninggalkan jejak walaupun sudah kita hapus. Bisa saja kan, kita sudah menghapusnya tapi ada pihak lain yang menyimpan gambar tersebut?
Untuk mengajarkan anak cerdas digital, orangtua perlu mengetahui cara dunia digital bekerja, yaitu
  • Platform digital mengenal kebiasaan penggunanya dan memberikan respon seperti iklan, berita dan lainnya. Di dunia digital, informasi baik maupun buruk datang dengan sendirinya tanpa perlu dicari. Contoh iklan-iklan yang pop up sesuai dengan umur pembuat akun. Jadi, jangan salahkan Youtube kalau memunculkan iklan orang dewasa padahal gawai sedang dipakai oleh anak. Coba cek berapa usia yang anda masukkan ke akun Youtube yang dimiliki!
  • Setiap platform memiliki aturan tersendiri. Pengaturan mencakup batasan usia, privasi, restriksi dan lainnya. Sebelum menyetujui dan melanjutkan menekan tombol "Accept/Agree", orangtua perlu membaca semua ketentuan dan anak harus menaati.
  • Sosialisasi tidak terbatas. Dunia maya memberikan banyak kesempatan kepada penggunanya untuk membuka pergaulan seluas-luasnya tanpa batasan usia dan jarak. Tentu saja hal ini ada kelebihan dan kekurangannya. Orangtua perlu waspada. Ada berapa banyak kasus anak yang tertipu melalui media sosial?
  • Ada risiko adiksi. Internet Addiction Disorder (IAD) adalah perilaku penggunaan internet yang mengarah pada gangguan perkembangan yang ditandai dengan sikap berlebihan dan kontrol diri yang rendah. Adiksi pada internet termasuk waktu penggunaan yang lama, mengisolasi diri dari segala bentuk kontak sosial, dan hanya fokus pada internet, bukan pada kehidupan dirinya.
Agar tidak terjadi adiksi anak kepada gawai, buatkan aturan penggunaan waktu di depan layar digital (screen time) sebagai berikut:


USIA ANAK
REKOMENDASI
< 18 bulan
Hindari penggunaan media digital kecuali video call sebagai sarana komunikasi dengan anggota keluarga yang berjauhan
18-24 bulan
Bila ingin mengenalkan media digital, pilih program berkualitas serta sesuai tahap perkembangan anak. Dampingi ketika menonton dan bantu anak memahami apa yang dilihat
3-5 tahun
Maksimal 1 jam per hari dan harus didampingi orangtua. Pilih program berkualitas dan sesuai tahap perkembangan anak. Dampingi ketika menonton dan bantu anak memahami apa yang dilihat dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari
lebih dari 6 tahun
2 jam per hari. Terapkan aturan waktu layar ini secara konsisten. Pastikan tidak mengganggu pola tidur dan makan, perhatikan postu tubuh dan perbanyak aktivitas fisik

Tapi terkadang nih, justru orangtua yang seolah tidak peduli saat anak bermain gawai, bisa jadi karena orangtua merasa:
  • Gaptek, tidak mau tahu. Dengan alasan  gaptek dan enggan belajar, kebanyakan orangtua malah bangga kalau anaknya lebih hebat dan maju darinya. Orangtua bahkan menyerahkan sepenuhnya penggunaan gawai kepada anak.
  • Belum menjadi prioritas. Kesadaran orangtua akan pentingnya pembatasan penggunaan gawai dan internet mulai muncul. Tapi implikasinya belum berimbang, jadi hanya fokus pada aturan, tanpa ada pendampingan dan pembelajaran pada anak.
  • Kekhawatiran melihat kenyataan. Kekhawatiran yang berlebihan, takut dianggap tidak mampu atau tidak lebih hebat daripada anak, hanya akan menghalangi keterbukaan dan menghambat hubungan antara orangtua - anak.
  • Merasa tidak enak. Emosi "tidak enakan" yang tidak dikelola dengan baik mendorong orangtua memberikan gawai pada anak tanpa persiapan.
Lalu, apa peran orangtua apabila ada anak yang merasa bahwa "Tidak ada internet itu rasanya seperti mati lampu," -Eka, 13 tahun-? 



Papa zaman now, Rezki Yanuar selaku Country Brand Manager Shopee Indonesia mengajak orangtua untuk memberdayakan dan membantu meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi, mencegah dan belajar dari kesalahan.

Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, Shopee Indonesia memberikan diskon untuk pembelian kategori Perlengkapan Anak. Waaah, buat aku ini berarti saatnya menyetok mainan sebagai kado ulang tahun anak dan teman-temannya!

Ini dia 4 Cara Cerdas Didik Anak Digital:

1.       KREATIVITAS
Ajak anak untuk bertanya “Karya apa yang bisa saya bagikan atau berikan kepada orang lain?” Ajar anak untuk memberikan kredit kepada penulis atau seniman yang digunakan dan disebarkan karya kreatifnya.


2.       KOLABORASI
Ajak anak untuk bertanya “Apakah yang saya kerjakan berhubungan dengan orang lain?” Orangtua dapat membantu anak mengenali minat dan menemukan aktivitas dan teman-teman offline yang beragam dan menyenangkan.

3.       KRITIS
Ajak anak untuk bertanya “Dari mana say atahu informasi ini benar dan baik?” Ajar anak untuk memberikan dan menyebarkan informasi dengan sadar, siapa yang meminta dan kenapa diperlukan.

4.       KEAMANAN
Ajak anak untuk bertanya “Apa konsekuensi dan risiko dari perbuatan saya?” Ajar anak untuk menggunakan prinsip baik saat membuat kata kunci dan tidak berbagi kata kunci, kecuali dengan orangtua.


Selamat mendidik anak-anak dengan CINTA!

related article: KELUARGA INDONESIA yang BERDAYA

Kalau Anda, apakah juga menerapkan pembatasan penggunaan gawai dan internet kepada anak? Let's share!

    

Thursday, 5 July 2018

The Social Media Generation

Picture from pixabay

Berawal dari chat WA group yang membahas pemblokiran sementara aplikasi Tik Tok oleh Menkominfo, Rudiantara sampai kepada seorang anak remaja berusia 13 tahun dengan akun bernama Bowo Alpenliebe.

Remaja yang bernama asli Prabowo Mondardo ini terkenal karena video yang diunggahnya di aplikasi tik tok dan memiliki banyak penggemar khususnya remaja putri. Dan yang mengerikan, banyak remaja putri yang rela menjual ginjal hanya untuk bertemu dengannya. Tidak berhenti di situ, yang ekstrim lagi, ada yang mau membuat agama baru dengan Bowo sebagai tuhannya.

Kehebohan terjadi saat netizen menghujat Bowo yang membuat acara Meet and Greet berbayar seharga Rp80.000. Kalau aku sih melihat Rp80.000 harga yang wajar untuk nonton bareng di salah satu bioskop di Jakarta Timur. Tapi, memangnya Bowo itu siapa sampai kalau mau bertemu dengannya saja kita harus mengeluarkan uang?

Menurutku, masyarakat sebaiknya tidak sepenuhnya menghujat Bowo. Kalau memang dirasa tidak masuk akal, ya cukup tinggalkan saja, tahan jempol dan tidak perlu meninggalkan jejak digital di akun media sosial yang bersangkutan.

Kata salah satu artikel di lifehack.org "We are always hungry for approval, thirsty for recognition, and needy for validation. The real question is — can we satisfy these core needs just by getting numerous ‘likes?"

Mungkin mereka yang menghujat juga butuh pengakuan? kurang piknik? atau malah tidak mencintai dirinya sendiri?

Media sosial hanya alat, kita sebagai pengguna seharusnya menjadi tuan. Namun seringkali kenyataan menjadi sebaliknya, kebanyakan kita yang diperbudak oleh media sosial. Betapa dengan mudahnya kita mengumpat, mengejek, dan menyakiti orang lain melalui tulisan di media sosial baik milik pribadi maupun menumpang di lapak orang lain.

Hal yang menjadi tantangan hari hari belakangan adalah munculnya generasi media sosial yang lebih muda dibandingkan saat aku pertama kali bermain media sosial. Aku bermain friendster pertama kali saat berumur 21 tahun. Kini, anak-anak memiliki akun media sosial saat mereka masih memakai popok padahal batasan untuk membuat sebuah akun media sosial adalah 13+ tahun menurut aturan Federal di AS (sayangnya, Indonesia belum memiliki batasan seperti ini).

Dengan banyaknya anak-anak yang bermain media sosial, The Royal Society of Public Health’s di Inggris memberikan peringatan mengenai kesehatan remaja yang berkaitan dengan penggunaan media sosial. Generasi Media Sosial cenderung memiliki tingkat kecemasan serta depresi di atas rata-rata dan mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari.

Memiliki anak berumur 10 tahun menjelang 11 tahun membuatku semakin berhati-hati memperkenalkan dunia digital kepadanya. Kita tidak bisa mensterilkan anak dari dunia digital karena perkembangan teknologi digital sejatinya membantu di dalam kehidupan sehari-hari.

Kemarin, aku menonton sebuah video yang diunggah di Facebook saat perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Video dokumenter yang berkisah tentang penanganan anak-anak yang kecanduan bermain online games di sebuah boot camp. Di China, banyak kasus dilaporkan mengenai remaja bahkan dewasa yang meninggal akibat kecanduan online games. Ya, online games  memang dijuluki electronic heroine yang dapat membuat penggunanya lupa daratan, lautan dan udara.

Lalu, apa pesan video tersebut untuk orangtua sepertiku? Pesannya hanya banyak luangkan waktu bersama anak.

Sebenarnya, baik Bowo atau pun penggemarnya hanyalah remaja yang kesepian. Kedua orangtua Bowo bekerja sehingga pengawasan orangtua saat menggunakan media sosial menjadi minim. Bisa jadi, hal tersebut juga terjadi kepada para penggemar Bowo yang antik-antik itu tadi.

Seperti yang Ibu Rani Razak katakan, "Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menjadi manusia dewasa, masa yang dipenuhi dengan perubahan hormon yang dikenal dengan istilah pubertas dan stres."

related articleWow! Anakku Sebentar Lagi ABG!

Nah, orangtua-orangtua remaja generasi media sosial itu nyadar enggak sih kalau anaknya cuma perlu ditemani untuk melewati fase ini?  Fase yang bagi mereka merupakan sebuah loncatan besar di dalam kehidupannya.

Bisa jadi juga orangtua masih menggunakan cara pengasuhan yang didapat dari generasi sebelumnya, "yang penting anaknya duduk anteng, enggak loncat dan lelarian kesana kemari". Hei! bukankah anak aktif itu pertanda anak sehat?

Padahal pola pengasuhan generasi media sosial seharusnya berbeda dari cara generasi terdahulu. Diperlukan banyak pihak yang saling mendukung dalam mengasuh seorang anak. Penerapan aturan di dalam menggunakan gawai yang jelas dan tegas serta pengajaran nilai di dalam keluarga.

Kalau aku, jelas bahwa penggunaan media elektronik (nonton televisi plus bermain gawai) untuk anak dibatasi hanya 2 jam per hari.

Aku akan menjatah si sulung menggunakan media sosial hanya 10 menit setiap kali dia sudah melakukan tugas dan kewajibannya terutama urusan sekolah. Misalnya, 10 menit pertama saat perjalanan pulang dari sekolah ke rumah kalau dijemput oleh kami, orangtuanya.

10 menit berikutnya apabila dia sudah tidur siang dan mandi maka baru aku berikan lagi. Selanjutnya, kalau sudah selesai belajar, makan malam, ngobrol denganku dan beberes buku yang akan dibawa ke sekolah baru aku berikan. Sehingga total penggunaan media sosial si sulung bisa terkendali dan bahkan kurang dari 2 jam sehari.

Selain membatasi waktu penggunaan media sosial, aku juga menemani si sulung saat dia membuka media sosialnya atau browsing internet maupun menonton youtube. Untuk youtube aku memberlakukan restricted mode agar tidak muncul video-video yang tidak layak tonton bagi anak.

related article:  Keluarga Indonesia

Yang terakhir, aku membuat kegiatan yang bisa dilakukan bersama seperti berkunjung ke museum, jalan-jalan sampai mendongeng. Si sulung sudah mulai bisa menyusun cerita untuk didongengkan dan menurutku itu juga bisa melatih keterampilannya berbahasa dan berpikir sistematis.

related article: #theJosepsSGtrip

Nah, ternyata banyak kan yang bisa dilakukan oleh orangtua dengan cinta untuk mendidik generasi media sosial?

Yuk cintai anak dengan menyediakan waktu, hati dan telinga untuk mereka! Dan stop jarimu dari gawai untuk menambahkan komentar, taruh dan peluk anak-anakmu sekarang!