Tuesday, 29 March 2011

Mewarnai dengan produk Maped

Bermula pada keinginan saya untuk melatih motorik halus Darren (3 tahun) melalui mewarnai , saya mulai mencari crayon yang tepat.

Kita bisa menemui crayon yang ada di pasaran beraneka ragam jenis dan merek namun semua crayon itu meninggalkan bekas di tangan anak. Hal inilah yang saya tidak suka, saya khawatir sisa material crayon tersebut tidak sengaja masuk ke dalam pencernaan anak melalui tangannya.

Kemudian saya menemukan ini!


Awalnya saya tahu crayon bermerek Maped ini dari sepupu saya. Saat saya main ke rumahnya, keponakan saya sedang asyik mewarnai menggunakan crayon Maped ini.

Saya amati si Maped ini dan ternyata saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Saya mulai mencari crayon ini di toko buku namun sulit sekali menemukannya.

Akhirnya pucuk dicinta ulam tiba, saya menemukan crayon ini di Carrefour dan sedang diskon saat itu! Langsung saja saya bawa pulang crayon ini tapi tanpa lupa membayarnya di kasir terlebih dahulu :D

Keunggulan produk Maped ini adalah :

  • Bentuk segitiga-nya yang memudahkan tangan anak untuk memegang crayon
  • Tidak meninggalkan warna crayon di tangan anak
  • Warnanya cerah
  • Tersedia juga dalam bentuk pensil warna

Ayo kita mewarnai :)

Monday, 28 March 2011

Financial Talk di @atamerica

Hari Sabtu yang lalu tepatnya 26 Maret 2011, saya menyempatkan diri datang ke Financial Talk yang digelar The Urban Mama , QM Financial dan Sahabat Foundation di @atamerica di Pacific Place lantai 3 .

Padahal saya adalah orang yang sangat malas keluar rumah saat akhir pekan tiba. Tentu saja kemalasan saya sangat beralasan, akhir pekan merupakan kesempatan saya untuk membusuk di tempat tidur bersama Darren dan mengerjakan tugas rumah tangga semenjak ditinggal oleh Asisten Rumah Tangga.

Tapi kali ini berbeda, acara Financial Talk ini sangat penting buat Rico yang adalah suami saya . Anggap saja ini merupakan kado dari saya kepada Rico yang berulang tahun sehari sebelum acara Financial Talk ini digelar.

Saya cukup mengerti akan pentingnya perencanaan keuangan dan investasi namun Rico masih buta sama sekali. Bahkan ada beberapa kali kami adu argumen mengenai tujuan keuangan keluarga kecil kami dan instrumen investasi yang masih belum dimengerti oleh Rico.

Jadi momennya sangat pas dan saya harus datang walaupun harus menitipkan Darren kepada mertua dan adik ipar saya. *Terima kasih ya Mama Josep dan iparku Anthon*

Memasuki @atamerica , saya terpukau karena semuanya canggih. Ini kali pertama saya ke @atamerica!

Saat masuk walaupun ribet karena diperiksa sama keamanannya, semua tas ditaruh di locker dan di dalam kita akan menemukan high technology sistem.

Sesi 1 sudah dimulai dan Fitri Noeriman dari QM Financial sedang menjelaskan tentang Dana Pendidikan.

Jreeeng!

Rico terkaget- kaget akan besarnya Dana Pendidikan yang dibutuhkan dari jenjang TK sampai Universitas.

Inflasi biaya pendidikan untuk jenjang TK s/d SMA sebesar 20% pertahun sedangkan untuk Universitas sebesar 15% pertahun.

Jelas bahwa menabung saja tidak cukup maka perlu investasi di instrumen yang return-nya mampu mengalahkan inflasi!

Belum lagi Dana Pensiun *tepok jidat*

Gak mau kan kalau kita sudah tidak bekerja lagi nanti malah membebankan anak- anak dengan kebutuhan kita setiap bulannya ?!

Pentingnya Perencanaan Keuangan adalah untuk mencapai Financial Independent dan Financial Freedom.

Berlanjut ke sesi 2, pembicara adalah Dondi Hananto dari Sahabat Foundation.

Sahabat Foundation berdiri terinspirasi oleh Grameen Bank

Fakta bahwa masih banyak orang miskin di Indonesia yang jumlahnya sekitar 14 juta jiwa (data BPS tahun 2009)

Apakah kita sebagai golongan menengah yang cukup makan, cukup pakai dan punya tempat tinggal bisa diam saja ?

Untuk bisa membantu masyarakat melalui microfinance, keuangan kita sebagai golongan menengah harus kuat dulu.

"When we're stronger we can be stronger for others" kata Ligwina Hananto.

Terima kasih TUM, QM Financial, Sahabat Foundation dan @atamerica ! Kalian membuka mata kami tentang perencanaan keuangan dan dampaknya terhadap masyarakat :)


Tuesday, 22 March 2011

#blissipline week 2 How I redeem myself ?


Bicara tentang membuat kesalahan, wajar kalau sesekali kita sebagai manusia melakukan kesalahan. Tapi ada kalanya hati ini begitu marah karena tiba- tiba kita dituduh atau dirasa bersalah atas apa yang tidak kita perbuat.


Hal tersebut pernah saya alami sewaktu saya (yang fresh graduate waktu itu) baru terjun ke dunia kerja yang sebenarnya.

Berbagai intrik dan politik kantor benar adanya walaupun saya tidak mau ambil pusing dengan situasi yang ada. Hingga pada suatu ketika, saya dituduh atau lebih tepatnya difitnah oleh senior melakukan pemborosan via telepon dan hal ini sampai ke hadapan owner. Saya langsung dipanggil untuk dimintai keterangan mengenai hal tersebut, dan karena pekerjaan saya memang mengharuskan saya berhubungan dengan sambungan telepon internasional maka saya jelaskan dengan kepala dan hati yang dingin. Akhirnya, sang owner mengerti duduk perkara tersebut dan lebih berhati- hati lagi terhadap “apa kata senior” itu. Dan blessing in disguise-nya dari kejadian diatas, saya malah mendapatkan promosi dan kenaikan gaji.

Tidak berapa lama selang kejadian itu, saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan saya bukan karena masih dendam dengan senior itu namun lebih kepada mencari kebahagiaan bagi diri saya sendiri karena saya layak untuk bahagia.

Nampaknya senior itu selalu mencari- cari kesalahan yang tidak saya buat melalui internal audit yang sejak awal tahun 2004 sampai detik ini saya membuat tulisan ini , hasil internal audit itu tidak pernah keluar. Lucu bukan ?!

Nah kalau tahun itu, saya mampu untuk tidak melakukan klarifikasi lain halnya dengan tahun 2010.

Mungkin karena berbekal pada kejadian diatas, saya berprinsip bahwa “I must stand for myself, otherwise, no one will”

Ada kesalahan di departemen lain yang hubungan erat dengan departemen saya. Alhasil, saya patut menanyakan kronologis kejadian dengan yang bersangkutan sebut saja R. Rupanya R tidak terima dan mulai mengada- ada bahwa saya menggelar meeting tersebut semata- mata karena urusan personal.

Semua yang hadir di meeting tersebut dengan jelas tahu bahwa saya tidak memihak dan tidak juga menyalahkan pihak manapun. Saya menghimbau agar masing- masing yang hadir dapat lebih teliti lagi dalam bekerja. Berbuat kesalahan manusiawi tapi kalau kesalahan itu terjadi karena lalai atau malas untuk menelusuri lebih jauh, tampaknya itu tidak manusiawi.

Keesokkan harinya, salah satu staff saya melakukan kesalahan yang berakibat lebihnya jumlah pembayaran kepada supplier daripada yang seharusnya.

Alih- alih saya marah kepada staff saya, saya menginterospeksi diri. Seharusnya kejadian kesalahan jumlah pembayaran tersebut dapat dicegah bila saja saya lebih teliti untuk melihat pengajuan pembayaran tersebut. Dan tertulis lah status saya di ym berikut bunyinya,” Kalau bawahan salah berarti saya juga bersalah, I wanna be a leader not a boss! #notetoself yang rupanya juga dibaca oleh atasan R.

Tanpa klarifikasi lebih lanjut kepada saya, atasan R langsung curhat ke beberapa orang dengan disertai tangis bahwa tulisan tersebut dibuat untuknya. *drama*

Padahal tulisan tersebut murni untuk saya sendiri! Akhirnya untuk meluruskan hal tersebut saya mengirimkan e-mail klarifikasi kepada yang bersangkutan dan diakhiri dengan pertemuan singkat untuk meluruskan duduk persoalan yang terjadi.

Entah apa yang saya lakukan sudah benar dan seharusnya atau saya telah “Menabuh genderang perang dengan tidak strategisnamun saya cukup tahu melalui peristiwa ini agar lain kali kalau saya dihadapkan pada situasi seperti ini lagi, saya akan lebih pintar lagi menghadapinya J

*pic from getty images




Tuesday, 15 March 2011

Week 1 #blissipline

Beberapa waktu lalu saya mendaftarkan diri mengikuti tantangan #blissipline.

Di tengah deraan pekerjaan yang mengharuskan saya untuk memberikan waktu lebih (lembur) untuk mengerjakannya saya beranikan diri untuk megikuti tantangan tersebut.

Belum lagi situasi kantor yang serba salah.

Kenapa serba salah ?

Karena peristiwa beberapa waktu lalu dengan salah satu kolega membuat hubungan kerja dan pertemanan menjadi kusut serta masih mengganjal dihati sampai- sampai saya berpikir untuk memberanikan diri menulis e-mail mengenai masalah ini kepada mas Alex Sriewijono.

Singkat cerita, masuklah saya ke #blissipline minggu pertama dengan tema “How Do You Sell Yourself”

Ajaib rasanya kalau di tengah situasi yang saya hadapi, saya mencoba belajar untuk menjual diri saya kepada kolega saya itu.

Singkat kata, saya membantu dia untuk membuat sheet agar pekerjaannya menjadi lebih mudah.

Sebuah e-mail masuk ke inbox dan isinya ucapan terima kasih dari kolega saya itu.

Saya mencoba untuk berusaha membantu siapapun sepanjang saya masih mampu menolong.

Dan hadiah paling manis yang saya dapatkan bukanlah dari kolega saya itu tapi dari seorang anak yang belum genap berumur 4 tahun.

Dia yang berkata,” Kalau mama senang membantu”

Terima kasih semesta J



Friday, 11 March 2011

(Tidak) Perlu Antibiotik

Beberapa waktu lalu, Darren terserang demam.

Demam tinggi melebihi 39C selama 6(enam) hari.

Biasanya, saya tidak pernah membawa Darren ke dokter apabila Darren demam sampai 5(lima) hari.

Mengapa ?

Karena demam adalah proses tubuh melawan virus dan kuman penyakit.

Biasanya kalau Darren terkena virus, dia akan mengalami demam hanya tidak berkepanjangan.

Rata- rata demam akibat virus di tubuh Darren berlangsung selama 3-4 hari.

Namun kali ini, demam melebihi toleransi waktu yang ditetapkan.

Sehingga saya hampir berniat untuk melakukan tes darah terhadap Darren.

Bersyukur karena kakak ipar yang juga adalah dokter anak memantau keadaan Darren sehingga menyimpulkan bahwa Darren terkena demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella

Ciri utama demam tifoid ini adalah demam tinggi pada sore menjelang malam hari.

Setelah googling mencari apa itu demam tifoid, cara penanganan dan jenis obat yang dapat diberikan, akhirnya dengan sangat terpaksa, Darren harus minum antibiotik selama 10 (sepuluh) hari.

Saya sangat menentang penggunaan antibiotik kepada anak- anak.

Mengapa ?

karena biasanya antibiotika bekerja sangat spesifik pada suatu proses, mutasi yang mungkin terjadi pada bakteri memungkinkan munculnya strain bakteri yang 'kebal' terhadap antibiotika. Itulah sebabnya, pemberian antibiotika biasanya diberikan dalam dosis yang menyebabkan bakteri segera mati dan dalam jangka waktu yang agak panjang agar mutasi tidak terjadi. Penggunaan antibiotika yang 'tanggung' hanya membuka peluang munculnya tipe bakteri yang 'kebal'.

Itulah sebabnya apabila penggunaan antibiotik dapat dihindari, lebih baik dihindari.

Yang menyedihkan adalah terkadang balita yang mengalami demam tinggi diberikan resep antibiotik tanpa melakukan serangkaian tes padahal belum tentu demam tinggi itu karena bakteri, bisa jadi demam karena virus.

Ini potret nyata bahwa masih banyak masyarakat yang mempercayakan kesehatan di tangan dokter padahal seharusnya sebagai pasien kita harus mengkritisi setiap vonis yang dokter jatuhkan terhadap kita.

Kita sebagai pasien juga harus mencoba mencari opini lain untuk penyakit kita.

dan kita sebagai pasien berani mengatakan TIDAK untuk resep obat yang seharusnya tidak kita perlukan atau antibiotik yang diberikan tanpa adanya serangkaian tes!

Berikut tips untuk orangtua yang anaknya sedang sakit demam:

  • kompres lipatan tubuh (ketiak, paha) dan basuh tubuh anak dengan air hangat, malah ada sebagian yang merendam anaknya di air hangat (keputusan untuk merendam ada di tangan Anda)
  • minumkan parasetamol atau ibuprofen untuk menurunkan panas
  • apabila panas berlanjut melebihi 4(empat) hari, segera ke dokter dan lakukan serangkaian tes
  • orangtua harus tetap tenang agar dapat berpikir jernih dan harus mengusahakan menjaga kesehatan saat tubuh kekurangan tidur dengan cara memenuhi asupan air sebanyak 35 x berat badan
  • doa, this is the most powerful medicine :)
ayo, hidup sehat!

Wednesday, 9 March 2011

what a 3yo son can do...



these couple days, Darren doesn't went to school because he got typhoid fever.

High fever 39C every night makes the whole family gone insane.

Lack of sleep makes us all crancky but thank God that we still have our common sense.

Kinda heart breaking when Darren doesn't complaint at all about his fever.

Instead, he told me to go to work and leave him with his daddy.

After one week dealing with fever, last night Darren able to sleep tight and so do the rest of family.

Today, he seems to be okay and had no fever at all.

I urge him to go to school.

Usually he go to school at 10.30am but on 11.00am his daddy call me and tell me that Darren refused to go to school.

By the phone, I told him that if he doesn't want to go to school, he can't go with me to try yoga lesson on Saturday morning.

here's the conversation (in Indonesia):

Daddy : Neii, Darren refused to go to school
Me : Let me talk to him
Darren: Mommy, I don't want to go to school
Me : Look, I have planned to go to yoga lesson with theurbanmama on Saturday morning , if you don't go to school you stay at home on Saturday okay ?!
Darren: mommy, I go to school then... Daddy, why you call mommy ?

Hahahaha, I laughed... he's so cute... the way he protest why his daddy called me to tell him to go to school :D

Friday, 4 March 2011

#NoComplaintWek Day 6- 7

I know that I should write this post on Feb 19th, 2011.

Glad that day 6-7 was weekend, means #NoComplaintWeek not to challenging for this two days in row.

All day with my 3(three) years old son was great and fun.

From he opened his eyes until he go to bed at night, I was there with him.

I enjoyed this weekend and I think I succeed #NoComplaintWeek challenge.