Monday, 13 July 2009

We as parents can make mistake too

Sebelum menulis blog ini, saya mau tanya kepada para orang tua muda dan berikut pertanyaannya: “Pernahkah Anda mendudukkan bayi atau anak Anda yang masih balita di pangkuan Anda pada saat Anda menyetir kendaraan?”

Saya dan suami pernah, bermula pada saat Darren sudah mulai bisa duduk.

Bila tiba di gerbang kompleks perumahan kami, pasti swami saya mendudukkan Darren di pangkuannya sembari menyetir mobil sampai ke rumah.

Di Indonesia memang tidak ada larangan yg strict mengenai bayi atau balita yang harus memakai car seat seperti di negara- negara maju di Eropa dan AS.

Dan karena kurangnya pengalaman kami sebagai pasangan muda maka terjadilah tantrum luar biasa dari Darren kemarin malam.

Berawal semenjak Jumat malam, swami saya menjemput saya dengan mengajak Darren dan duduk di pangkuannya while he’s driving. And D was doing great at that time.

My hubby think that is nice since D is attractive to car either it is a toy or a real car. It’s kinda a boy thing, D feel that it is cool to seat behind the steer. And he not only enjoyed it but he want some more.

Dan kemarin malam Darren kembali duduk “menyetir” bersama swami saya. Darren berpikir bahwa duduk bersama papa-nya pada saat papa-nya menyetir mobil adalah sah- sah saja padahal itu semua SALAH BESAR!!

Menyetir sambil memangku dapat menyebabkan kecelakaan lalin dan tentunya melanggar peraturan lalin yg ada.

Akhirnya dengan paksaan saya mengembalikan D ke kursi belakang dan seketika itu juga saya sadar bahwa saya dan swami membuat kesalahan dengan mengijinkan D duduk di pangkuan papa-nya.

A long the way home, he’s pissed off and it continous at home.

He insist to stay on the car but I forced him to go to his room. Instead of mad to him, I realized that I was guilty not Darren.

I asked D to stop crying and take deep breath and hold him.

I do make an apologize because I give him permission to sit on his dad while his dad was driving.

He cries louder than before when I asked him not to sit behind the steer anymore and it breaks my heart.

Terkadang kita tidak menyadari bahwa keputusan sepele sepertui hal diatas bisa berakibat fatal terhadap karakter anak- anak kita.

Apabila kami terus menerus membiarkan hal tersebut di atas maka dapat dipastikan D akan tumbuh menjadi pribadi yg tidak menghiraukan peraturan yang ada.

Tapi kami tidak mau D tumbuh menjadi orang yg seperti itu, kami ingin D tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter yang benar dan memiliki integritas.

Children do not know about boundaries, we as parents creates it for them so they know which one is allowed and which one is not.

No comments: